KESEHATAN
MENTAL
ANALISIS FILM THE SOLOIST

Nama Kelompok
:
2. SitiFebbiyantiAprilia
(1A514349)
3. Tika
Lestari Parmana (1A514769)
2PA04
UniversitasGunadarma
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan
kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah kepada kita
semua, sehingga berkat karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini,
kami tidak lupa mengucapkan banyak terimakasih pada semua pihak yang telah
membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini sehinggga kami dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini. Penulisan makalah ini bertujuan untuk
memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kesehatan Mental di Universitas
Gunadarma.
Dalam penyusunan makalah ini kami
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun sendiri maupun
kepada pembaca umumnya. Kami mohon maaf apabila ada kekurangan maupun kesalahan
pada penulisan makalah ini, untuk itu kami berterimakasih apabila pembaca
memberi saran atau kritikan kepada kami.
Depok, Maret
2016
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………….…….….…….. 2
DAFTAR ISI ...…………………………………………………………….……..……….. 3
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………….…..…….. 4
1.1 Latar Belakang ……………...…………..…...……………….…….…....... 4
1.2
Rumusan Masalah ....…...…………………………………….…….….….. 4
1.3
Tujuan
Penulisan ..………………………………………………….…..… 4
BAB II PEMBAHASAN ...……………………………………………………….…..... 5
2.1
Sinopsis Film
...........................................………………………….....….... 5
2.2 Analisis Film...............................................……………..……….…..…… 6
2.3 Teori Skizofrenia..............................................................................….…... 6
2.4 Ciri-ciri Utama Skizofrenia .......................................................................... 7
2.5 Beberapa Penyebab Skizofrenia
................................................................... 9
2.6 Beberapa Pendekatan Penanganan Skizofrenia
...........................................
10
BAB III PENUTUP ......……………………………………………………………..… 11
3.1 Kesimpulan ……………………………………………….…………...….. 11
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Skizofrenia adalah gangguan
mental yang ditandai dengan gangguan proses berpikir dan tanggapan emosi yang
lemah. Keadaan ini pada umumnya dimanifestasikan dalam bentuk halusinasi,
paranoid, keyakinan atau pikiran yang salah yang tidak sesuai dengan dunia
nyata serta dibangun atas unsur yang tidak berdasarkan logika, dan disertai
dengan disfungsi sosial dan pekerjaan yang signifikan. Gejala awal biasanya
muncul pada saat dewasa muda, dengan prevalensi semasa hidup secara global
sekitar 0,3% – 0,7%. Diagnosis didasarkan atas pengamatan perilaku dan
pengalaman penderita yang dilaporkan.
The Soloist adalah 2009 British -
Amerika Film drama yang disutradarai oleh Joe Wright, dan dibintangi Jamie Foxx
dan Robert Downey, Jr. Hal ini didasarkan pada kisah nyata. Nathaniel Ayers,
seorang musisi yang mengembangkan skizofrenia dan menjadi tunawisma. Skenario
oleh Susannah Hibah didasarkan pada buku, The Soloist oleh Steve Lopez.Foxx
menggambarkan Ayers, yang dianggap sebagai cello ajaib, dan Downey
menggambarkan Lopez, seorang Los Angeles Times kolumnis yang menemukan Ayers
dan menulis tentang dia di koran. Film ini dirilis di bioskop pada 24 April
2009.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apakah nama gangguan yang
terdapat di film The Soloist?
2.
Bagaimana awal gangguan yang
dirasakan dalam film tersebut?
3.
Bagaimana cara mengatasi gangguan
tersebut?
1.3
Tujuan Penulisan
1.
Menambah wawasan tentang materi
kesehatan mental dan salah satu gangguannya yaitu skizofrenia.
2.
Untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan
dengan gangguan skizofrenia.
3.
Menyelesaikan tugas makalah
kesehatan mental.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Sinopsis Film
Film The
Soloist menceritakan seorang bernama Nathaniel Anthony Ayers yang adalah
seorang berbakat dalam bidang musik namun ia hidup gelandangan yang tunawisma
dan sangat gila terhadap kebersihan, selalu membawa barang-barangnya dalam
keranjang beroda, suka berada di kolong jembatan. Seorang wartawan bernama
Steve Lopez bertemu dengan Nathaniel saat berada di taman dekat patung
Beethoven.
Di masa lalu
Nathaniel adalah seorang anak yang berbakat bermain musik dan ia memiliki
potensi yang besar. Nathaniel bermain musik pagi, siang sampai malam.Steve
akhirnya menulis artikel tentang Nathaniel dalam koran. Tanpa diduga ada
seorang nenek yang membaca artikel tersebut merasa tersentuk, kemudian ia
memberikan Nathaniel sebuah alat musik cello yang dititipkan pada steve.Di masa
lalu Nathaniel memiliki apartemen sendiri dan bergabung dengan suatu grup
orchestra. Nathaniel sangat antusias mengikuti latihan sampai pada suatu saat
tiba-tiba ada kejadian aneh, Nathaniel tiba-tiba merasa sendirian kemudian
suara-suara muncul dalam kepalanya, suara-suaranya seperti berkata “larilah
dari situ”, “kamu sendirian”, “tidak ada yang menginginkanmu”, “mereka akan
membunuhmu” dan masih banyak lagi. Kejadian itu berlangsung terus menerus dan
membuat Nathaniel tidak bisa berkonsentrasi dengan latihannya sehingga ia
keluar dari grup musik tersebut.
Steve
bersimpati pada kehidupan Nathaniel, ia memberikan berbagai upaya untuk
membantu menyembuhkannya. Steve akhirnya mencari berbagai informasi dan
akhirnya diketahui bahwa Nathan merupakan seorang yang mengalami skizofrenia
dan terdapat gangguan di otaknya.Setelah mengetahui itu, Steve membuat sebuat
surat kontrak yang intinya agar Nathaniel mau dirawat. Nathaniel yang membaca
surat itu sangat marah karena ia dikatakan seorang yang menderita skizofrenia. Nathan
kemudian meminta maaf pada Steve atas perbuatannya pada saat itu dan kemudian
mereka pun berteman lagi. Sampai pada akhirnya kemajuan dicapai yaitu Nathan
mau tinggal di apartemen lagi namun Nathan tetap tidak mau dianggap sebagai
seorang skizofrenia. Sampai saat ini kondisi jiwa Nathan tidak berubah dari
awal Steve bertemu dengannya.
2.2
Analisis Film
Nathaniel mengalami gangguan kejiwaan yang disebut
skizofrenia. Dilihat dari perilakunya, Nathaniel cenderung mengidap skizofrenia
gangguan delusional atau gangguan paraoid. Biasanya fungsi intelektial dan
pekerjaan dapat dipertahankan walaupun gangguan tersebut bersifat kronik. Ia
hanya merasakan waham dan halusinasi pendengaran seperti sering mendengar
suara-suara yang mengganggu seakan-akan orang di sekitarnya akan menyakiti dia,
berpikir tidak teratur, berpidato.Nathaniel mengalami gangguan berbicara dengan
tidak teratur, topik yang dia bicarakan selalu melompat dari topik satu ke
topik lainnya dan terdengar kacau.
Nathaniel
mengalami skizofrenia disebabkan oleh faktor psikososial dan mengalami stress.
Sebenarnya belum ada obat untuk menyembuhkan skizophernia ini tetapi ada cara
lain untuk mengurangi skizophernia ini agar tidak semakin parah diantaranya
dengan rehabilitasi psikososial dan intervensi keluarga. Pendekatan ini
dilakukan untuk mengurangi halusinasi dan waham yang mengganggu diri dari
Nathaniel dalam melakukan aktivitasnya. Pendekatan psikososial bisa dilakukan
dengan mengajak kembali Nathaniel bermain cello, lalu ikut sertanya Nathaniel
dalam kelompok orchestra merupakan bentuk pendekatan dengan cara
rehabilitasi psikososial karena dengan pendekatan ini Nathaniel bisa kembali
beradaptasi dengan lingkungannya. Sedangkan untuk intervensi keluarga,
Nathaniel mendapat dukungan yang besar dari temannya Lopez dan kaka
perempuannya.
2.3 Teori Skizofrenia
Schizophrenia merupakan gangguan psikotik kronis
yang ditandai oleh episode akut yang mencakup kondisi terputus dengan realitas,
yang ditampilkan dalam ciri-ciri seperti waham, halusinasi, pikiran tidak logis,
pembicaraan yang tidak koheren, dan perilaku yang aneh. Deficit residual dalam
area kognitif, emosional, dan social dari fungsi-fungsi yang ada sebelum
episode akut. Diantara episode-episode akut, orang yang mengalami skizoprenia
mungkin tetap tidak dapt berpikir secara jernih dan munking kehilangan respon
emosional yang sesuai terhadap orang – orang dan peristiwa-peristiwa dalam
hidupnya. Mereka mungkin berbicara dengan nada yang mendatar dan menunjukkan
sedikit-jika ada-ekspresi (Mandal, Pandey, & Prasad,
1998). Skizoprenia diyakini mempengaruhi sekitar 1% dari populasi.
Skizoprenia biasanya berkembang pada masa remaja
akhir atau dewasa awal, tepat pada saat orang mulai keluar dari keluarga menuju
ke dunia luar (Cowan & Kandel , 2001 ; Harrop & Tower,
2001). Orang yang mengidap skizoprenia semakin lama semakin terlepas dari
masyarakat. Mereka gagal untuk berfungsi sesuai peran yang diharapkan sebagai
pelajar, pekerja, atau pasangan dan keluarga serta komunitas mereka menjadi
kurang toleran terhadap perilaku mereka yang menyimpang.
Gangguan ini biasanya berkembang pada masa remaja akhir atau awal
usia 20 tahun-an, pada masa dimana otak sudah mencapai kematangan yang penuh.
Pada sekitar tiga dari empat kasus, tanda-tanda pertama dari skizoprenia tampak
pada usia 25 tahun (Keith, Regier, & Rae, 1991).
Pada kebanyakan kasus, terjadi penurunan yang lebih
perlahan dan berangsur-angsur dalam funsi individu. Mungkin butuh waktu
bertahun-tahun sebelum perilaku psikotik muncul, meskipun tanda-tand
awal dari kemunduran mungkin dapat diamati. Periode kemunduran ini disebut
sebagai fase prodromal. Hal ini ditandai dengan berkurangnya minat dalam
aktivitas social dan meningkatnya kesulitan dalam memenuhi tangggung jawab di
kehidupan sehari-hari. Pada mulanya, mereka tidak peduli dengan penampilannya,
seiring dengan waktu mereka bertambah menjadi bertambah aneh dan eksentrik,
seperti menimbun makanan, mengumpulkan sampah, atau berbicara sendiri di jalan
merupakan fase akut gangguan dimuali. Simtom-simtom psikotik yang sebenarnya
berkembang, seperti halusinasi yang merajalela, waham dan meningkatnya perilaku
yang aneh.
Setelah episode akut, orang-orang yang mengalami
skizoprenia memasuki fase residual, dimana perilaku mereka kembali pada tingkat
sebelumnya yang merupakan karakteristik dari fase prodromal. Meskipun perilaku
psikotik yang mencolok mungkin tidak muncul selama fase residual, orang
tersebut tetap dapat terganggu oleh perasaan apatis yang dalam, oleh kesulitan
dalam berpikir atau berbicara denganjelas, dan menyimpan ide yang tidak biasa,
seperti keyakinan tentang telepati atau pendangan akan masa depan. Pola
perilaku seperti ini mempersulit individu untuk memenuhi peran social yang
diharapkan seperti pencari nafkah, pasangan dalam pernikahan, atau siswa. Kembalinya
seseorang secara penuh pada perilaku normal adalah tidak biasa namun terjadi
pada beberapa kasus. Yang lebih umum adalah berkambangnya pola kronis, yang
ditandai dengan terjadinya episode-episode psikotik akut dan berlanjutnya
hendaya kognitif, emosional, dan motivasional antarepisode ( Weirsma dkk.,
1998; USDHHS, 1999a).
2.4
Ciri-ciriUtamaSkizofrenia
Gangguandalampikirandanpembicaraan
·
Gangguan dalam isi
pikiran
Gangguan yang paling
nyata pada isi pikiran mencakup waham, atau keyakinan yang salah yang menetap
pada pikiran seseorang tanpa mempertimbangkan dasar yang tidak logis dan tidak
adanya bukti untuk mendukung keyakinan tersebut. Waham ini cenderung tidak tergoyahkan meskipun dihadapkan pada bukti yang bertentangan. Beberapa bentuk umum waham :
a. Wahamperkusi (berpikirbahwamerekadikejaroleh Mafia, FBI, ataukelompok
lain).
b. Waham referensi (merasa bahwa dirinya dibicarakan
orang).
c. Waham dikendalikan (meyakini bahwa pikiran, perasaan,
tindakannya dikendalikan oleh kekuatan dari luar, seperti suruhan setan).
d. Waham kebesaran (meyakini dirinya orang yang besar
memiliki kekuatan menyelamatkan dunia).
e. Waham pemecahan pikiran (meyakini entah bagaimana
pikirannya disebarkan ke dunia luar sehingga orang lain dapat mendengarnya).
f. Waham penyisipan pikiran (meyakini bahwa pikirannya
telah ditanamkan pada otaknya pada pihak luar).
g. Waham penarikan pikiran (meyakini bahwa pikirannya
telah dipindahkan dari dalam otaknya).
h. Waham lain meliputi keyakinan bahwa dirinya telah
melakukan dosa yang tidak termaafkan, menjadi busuk karena penyakit yang
mengerikan.
·
Gangguan dalam bentuk pikiran
Gangguan pikiran dikenali melalui gangguan dalam organisasi, pemrosesan dan kendali pikiran. Bentuk pembicaraan orang yang mengalami skizofrenia sering kali tidak teratur atau kacau, dengan bagian-bagian kata dikombinasikan secara tidak sesuai atau kata-kata dirangkai bersama untuk membuat rima-rima yang tidak bermakna. Pembicaraan mereka dapat melompat dari satu topic ke topiklainnya, namun kurang menunjukkan keterkaitan antara ide atau pikiran-pikiran yang diekspresikan. Orang-orang dengan gangguan pikiran biasanya tidak menyadari bahwa pikiran dan perilaku mereka tampak tidak normal.
·
Kekurangan dalam
pemusatan perhatian
Kesulitan menyaring
keluar stimulus yang tidak relevan dan mengganggu, kekurangan yang menyebabkan
hampir tidak mungkin untuk memusatkan perhatian dan mengorganisasikan pikiran
mereka (Asarnow dkk., 1991).Orang yang mengalami skizoprenia juga tampak
waspada berlebihan, atau menjadi benar-benar sensitif terhadap suara-suara yang
tidak relevan, terutama selama tahap awal gangguan.
·
Gangguan persepsi
Halusinasi, bentuk
gangguan persepsi yang paling umum pada skizoprenia, adalah gambaran yang
dipersepsi tanpa adanya stimulus dari lingkungan. Halusinasi dapat melibatkan
setiap indera. Halusinasi auditoris (mendengar suara) adalah yang paling umum.
Halusinasi taktil (seperti digelitik, sensasi listrik atau terbakar) dan
halusinasi somatic (seperti merasa ada ular yang menjalar di dalam perut) juga
umum. Halusinasi visual (melihat sesuatu yang tidak ada), halusinasi gustatoris
(merasakan dengan lidah sesuatu yang tidak ada), dan halusinasi olfaktoris
(mencium bau yang tidak ada) lebih jarang.
·
Gangguan emosi
Orang yang mengalami
skizoprenia mengalami gangguan afek atau emosional yang ditandai oleh afek
datar dan tidak sesuai. Mungkin berbicara secara monoton dan mempertahankan
wajah tanpa ekspresi. Bukti – bukti
terakhir berdasarkan penelitian laboratories menunjukkan bawa pasien
skizoprenia mengalami emosi negative yang lebih intens, dibandingkan kelompok
kontrol (Myin-Germeys, Delespaul, & deVries, 2000).
2.5 BeberapaPenyebab Skizofrenia
1. Faktor Biologis
§
Bukti kuat tentang kontribusi genetis yang utama.
§
Ketidakteraturan dalam system neurotransmitter di otak, terutama pada jalur di otak yang mengatur neurotransmitter dopamine.
§
Ketidaknormalan otak yang mendasari banyak kasus, seperti kerusakan structural atau deteroisasi jaringan otak atau gangguan pada jalur di otak yang mengatur fungsi kognitif dan emosional.
§
Kemungkinan adanya peraninfeksi virus yang mempengatuhi perkembangan otak yang terjad ipada masa prenatal atau selama masa awal kehidupan.
2. Faktor Psikososial
§ Pengalaman yang penuh stress dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan skizoprenia pada individu yang memiliki kerentanan secara genetis.
Penyebab yang spesifik
tetap tidak diketahui, namun kebanyakan peneliti meyakini bahwa hal-hal
tersebut mencerminkan interaksi antara genetis dan factor yang terkait dengan
stress, sebagaimana direpresentasikan oleh model diatesis stres.Belum ada
penyembuhan untuk skizoprenia. Penanganan biasanya mencakup banyak segi,
menggabungkan pendekatan farmakologis, psikologis, dan rehabilitative.
Kebanyakan orang skizofrenia yang dirawat dalam lingkup kesehatan mental yang
terorganisasi menerima beberapa bentuk obat antipsikotik, yang dimaksudkan
untuk mengendalikan pola-pola perilaku yang lebih ganjil, seperti halusinasi
dan waham, dan mengurangi resiko kambuh yang berulang-ulang.
2.6
Beberapa Pendekatan
Penanganan Skizofrenia
1.
Perawatan Biomedis
Menggunakan obat-obatan tipsikotik untuk mengendalikan simtom-simtom psikotik.
2.
Penanganan Psikososial
Pendekatan berdasarkan prinsip belajar, seperti system token ekonomi dan pelatiha nketrampilan social, dapat membantu pasien skizofrenia mengembangkan perilaku yang lebih adaptif.
3.
Rehabilitasi Psikososial
Kelompok-kelompok self-help dan program tempat tinggal yang terstruktur dapat membantu pasien skizofrenia menyesuaikan diri dengan kehidupan komunitas.
4.
Program Intervensi Keluarga
Intervensi keluarga digunakan untuk meningkatkan komunikasi dalam keluarga dan mengurangi tingkat konflik dan stress keluarga.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Nathaniel
mengalami gangguan kejiwaan yang disebut skizofrenia. Dilihat dari perilakunya,
Nathaniel cenderung mengidap skizofrenia gangguan delusional atau gangguan
paraoid. Skizofrenia merupakan gangguan psikotik kronis yang
ditandai oleh episode akut yang mencakup kondisi terputus dengan realitas, yang
ditampilkan dalam ciri-ciri seperti waham, halusinasi, pikiran tidak logis,
pembicaraan yang tidak koheren, dan perilaku yang aneh. Nathaniel
mengalami skizofrenia disebabkan oleh factor psikososial yaitu stress. Pengalaman yang penuh stress dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan skizofreni apada individu yang memiliki kerentanan secara genetis. Belum
ada penyembuhan untuk skizofrenia. Penanganan biasanya mencakup banyak segi, menggabungkan
pendekatan perawatan biomedis, penanganan psikososial, rehabilitasi
psikososial, dan program intervensi keluarga.
Pendekatan ini dilakukan untuk mengurangi halusinasi dan waham yang mengganggu diri
dari Nathaniel dalam melakukan aktivitasnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Jeffrey S. Nevid, S. A. 2005. Psikologiabnormaljilid 2.
Jakarta:Erlangga.
Kartono, Kartini. 2000. Hygiene mental.
Bandung: CV. MandarMaju.
Read Users' Comments (1)komentar






