Jumat, 22 April 2016

kesehatan mental analisis film the soloist

KESEHATAN MENTAL
ANALISIS FILM THE SOLOIST




Nama Kelompok :
1.    Inayatul Hidayah (15514252)
2.    SitiFebbiyantiAprilia (1A514349)
3.    Tika Lestari Parmana (1A514769)

2PA04




UniversitasGunadarma
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah kepada kita semua, sehingga berkat karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini, kami tidak lupa mengucapkan banyak terimakasih pada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini sehinggga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kesehatan Mental di Universitas Gunadarma.
Dalam penyusunan makalah ini kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun sendiri maupun kepada pembaca umumnya. Kami mohon maaf apabila ada kekurangan maupun kesalahan pada penulisan makalah ini, untuk itu kami berterimakasih apabila pembaca memberi saran atau kritikan kepada kami.



Depok,  Maret 2016









DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………….…….….……..    2
DAFTAR ISI ...…………………………………………………………….……..………..    3
BAB I        PENDAHULUAN ………………………………………………….…..……..    4
1.1     Latar Belakang ……………...…………..…...……………….…….….......   4
1.2    Rumusan Masalah ....…...…………………………………….…….….…..    4
1.3    Tujuan Penulisan ..………………………………………………….…..…     4
BAB II      PEMBAHASAN ...……………………………………………………….….....  5
2.1    Sinopsis Film ...........................................………………………….....…....   5
2.2    Analisis Film...............................................……………..……….…..……     6
2.3    Teori Skizofrenia..............................................................................….…...     6
2.4    Ciri-ciri Utama Skizofrenia ..........................................................................     7
2.5    Beberapa Penyebab Skizofrenia ...................................................................   9
2.6    Beberapa Pendekatan Penanganan Skizofrenia ...........................................     10
BAB III     PENUTUP ......……………………………………………………………..…     11
                   3.1  Kesimpulan ……………………………………………….…………...…..  11
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................................   12








BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Skizofrenia adalah gangguan mental yang ditandai dengan gangguan proses berpikir dan tanggapan emosi yang lemah. Keadaan ini pada umumnya dimanifestasikan dalam bentuk halusinasi, paranoid, keyakinan atau pikiran yang salah yang tidak sesuai dengan dunia nyata serta dibangun atas unsur yang tidak berdasarkan logika, dan disertai dengan disfungsi sosial dan pekerjaan yang signifikan. Gejala awal biasanya muncul pada saat dewasa muda, dengan prevalensi semasa hidup secara global sekitar 0,3% – 0,7%. Diagnosis didasarkan atas pengamatan perilaku dan pengalaman penderita yang dilaporkan.
The Soloist adalah 2009 British - Amerika Film drama yang disutradarai oleh Joe Wright, dan dibintangi Jamie Foxx dan Robert Downey, Jr. Hal ini didasarkan pada kisah nyata. Nathaniel Ayers, seorang musisi yang mengembangkan skizofrenia dan menjadi tunawisma. Skenario oleh Susannah Hibah didasarkan pada buku, The Soloist oleh Steve Lopez.Foxx menggambarkan Ayers, yang dianggap sebagai cello ajaib, dan Downey menggambarkan Lopez, seorang Los Angeles Times kolumnis yang menemukan Ayers dan menulis tentang dia di koran. Film ini dirilis di bioskop pada 24 April 2009.

1.2    Rumusan Masalah
1.        Apakah nama gangguan yang terdapat di film The Soloist?
2.        Bagaimana awal gangguan yang dirasakan dalam film tersebut?
3.        Bagaimana cara mengatasi gangguan tersebut?

1.3    Tujuan Penulisan
1.        Menambah wawasan tentang materi kesehatan mental dan salah satu gangguannya yaitu skizofrenia.
2.        Untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan gangguan skizofrenia.
3.        Menyelesaikan tugas makalah kesehatan mental.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Sinopsis Film

Film The Soloist menceritakan seorang bernama Nathaniel Anthony Ayers yang adalah seorang berbakat dalam bidang musik namun ia hidup gelandangan yang tunawisma dan sangat gila terhadap kebersihan, selalu membawa barang-barangnya dalam keranjang beroda, suka berada di kolong jembatan. Seorang wartawan bernama Steve Lopez bertemu dengan Nathaniel saat berada di taman dekat patung Beethoven.
Di masa lalu Nathaniel adalah seorang anak yang berbakat bermain musik dan ia memiliki potensi yang besar. Nathaniel bermain musik pagi, siang sampai malam.Steve akhirnya menulis artikel tentang Nathaniel dalam koran. Tanpa diduga ada seorang nenek yang membaca artikel tersebut merasa tersentuk, kemudian ia memberikan Nathaniel sebuah alat musik cello yang dititipkan pada steve.Di masa lalu Nathaniel memiliki apartemen sendiri dan bergabung dengan suatu grup orchestra. Nathaniel sangat antusias mengikuti latihan sampai pada suatu saat tiba-tiba ada kejadian aneh, Nathaniel tiba-tiba merasa sendirian kemudian suara-suara muncul dalam kepalanya, suara-suaranya seperti berkata “larilah dari situ”, “kamu sendirian”, “tidak ada yang menginginkanmu”, “mereka akan membunuhmu” dan masih banyak lagi. Kejadian itu berlangsung terus menerus dan membuat Nathaniel tidak bisa berkonsentrasi dengan latihannya sehingga ia keluar dari grup musik tersebut.
Steve bersimpati pada kehidupan Nathaniel, ia memberikan berbagai upaya untuk membantu menyembuhkannya. Steve akhirnya mencari berbagai informasi dan akhirnya diketahui bahwa Nathan merupakan seorang yang mengalami skizofrenia dan terdapat gangguan di otaknya.Setelah mengetahui itu, Steve membuat sebuat surat kontrak yang intinya agar Nathaniel mau dirawat. Nathaniel yang membaca surat itu sangat marah karena ia dikatakan seorang yang menderita skizofrenia. Nathan kemudian meminta maaf pada Steve atas perbuatannya pada saat itu dan kemudian mereka pun berteman lagi. Sampai pada akhirnya kemajuan dicapai yaitu Nathan mau tinggal di apartemen lagi namun Nathan tetap tidak mau dianggap sebagai seorang skizofrenia. Sampai saat ini kondisi jiwa Nathan tidak berubah dari awal Steve bertemu dengannya.
2.2    Analisis Film

Nathaniel mengalami gangguan kejiwaan yang disebut skizofrenia. Dilihat dari perilakunya, Nathaniel cenderung mengidap skizofrenia gangguan delusional atau gangguan paraoid. Biasanya fungsi intelektial dan pekerjaan dapat dipertahankan walaupun gangguan tersebut bersifat kronik. Ia hanya merasakan waham dan halusinasi pendengaran seperti sering mendengar suara-suara yang mengganggu seakan-akan orang di sekitarnya akan menyakiti dia, berpikir tidak teratur, berpidato.Nathaniel mengalami gangguan berbicara dengan tidak teratur, topik yang dia bicarakan selalu melompat dari topik satu ke topik lainnya dan terdengar kacau.
Nathaniel mengalami skizofrenia disebabkan oleh faktor psikososial dan mengalami stress. Sebenarnya belum ada obat untuk menyembuhkan skizophernia ini tetapi ada cara lain untuk mengurangi skizophernia ini agar tidak semakin parah diantaranya dengan rehabilitasi psikososial dan intervensi keluarga. Pendekatan ini dilakukan untuk mengurangi halusinasi dan waham yang mengganggu diri dari Nathaniel dalam melakukan aktivitasnya. Pendekatan psikososial bisa dilakukan dengan mengajak kembali Nathaniel bermain cello, lalu ikut sertanya Nathaniel dalam kelompok orchestra merupakan bentuk pendekatan dengan cara rehabilitasi psikososial karena dengan pendekatan ini Nathaniel bisa kembali beradaptasi dengan lingkungannya. Sedangkan untuk intervensi keluarga, Nathaniel mendapat dukungan yang besar dari temannya Lopez dan kaka perempuannya.

2.3    Teori Skizofrenia
Schizophrenia merupakan gangguan psikotik kronis yang ditandai oleh episode akut yang mencakup kondisi terputus dengan realitas, yang ditampilkan dalam ciri-ciri seperti waham, halusinasi, pikiran tidak logis, pembicaraan yang tidak koheren, dan perilaku yang aneh. Deficit residual dalam area kognitif, emosional, dan social dari fungsi-fungsi yang ada sebelum episode akut. Diantara episode-episode akut, orang yang mengalami skizoprenia mungkin tetap tidak dapt berpikir secara jernih dan munking kehilangan respon emosional yang sesuai terhadap orang – orang dan peristiwa-peristiwa dalam hidupnya. Mereka mungkin berbicara dengan nada yang mendatar dan menunjukkan sedikit-jika ada-ekspresi (Mandal, Pandey, & Prasad, 1998). Skizoprenia diyakini mempengaruhi sekitar 1% dari populasi.
Skizoprenia biasanya berkembang pada masa remaja akhir atau dewasa awal, tepat pada saat orang mulai keluar dari keluarga menuju ke dunia luar  (Cowan & Kandel , 2001 ; Harrop & Tower, 2001). Orang yang mengidap skizoprenia semakin lama semakin terlepas dari masyarakat. Mereka gagal untuk berfungsi sesuai peran yang diharapkan sebagai pelajar, pekerja, atau pasangan dan keluarga serta komunitas mereka menjadi kurang toleran terhadap perilaku mereka yang menyimpang. Gangguan  ini biasanya berkembang pada masa remaja akhir atau awal usia 20 tahun-an, pada masa dimana otak sudah mencapai kematangan yang penuh. Pada sekitar tiga dari empat kasus, tanda-tanda pertama dari skizoprenia tampak pada usia 25 tahun (Keith, Regier, & Rae, 1991).
Pada kebanyakan kasus, terjadi penurunan yang lebih perlahan dan berangsur-angsur dalam funsi individu. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun  sebelum perilaku psikotik muncul, meskipun tanda-tand awal dari kemunduran mungkin dapat diamati. Periode kemunduran ini disebut sebagai fase prodromal. Hal ini ditandai dengan berkurangnya minat dalam aktivitas social dan meningkatnya kesulitan dalam memenuhi tangggung jawab di kehidupan sehari-hari. Pada mulanya, mereka tidak peduli dengan penampilannya, seiring dengan waktu mereka bertambah menjadi bertambah aneh dan eksentrik, seperti menimbun makanan, mengumpulkan sampah, atau berbicara sendiri di jalan merupakan fase akut gangguan dimuali. Simtom-simtom psikotik yang sebenarnya berkembang, seperti halusinasi yang merajalela, waham dan meningkatnya perilaku yang aneh.
Setelah episode akut, orang-orang yang mengalami skizoprenia memasuki fase residual, dimana perilaku mereka kembali pada tingkat sebelumnya yang merupakan karakteristik dari fase prodromal. Meskipun perilaku psikotik yang mencolok mungkin tidak muncul selama fase residual, orang tersebut tetap dapat terganggu oleh perasaan apatis yang dalam, oleh kesulitan dalam berpikir atau berbicara denganjelas, dan menyimpan ide yang tidak biasa, seperti keyakinan tentang telepati atau pendangan akan masa depan. Pola perilaku seperti ini mempersulit individu untuk memenuhi peran social yang diharapkan seperti pencari nafkah, pasangan dalam pernikahan, atau siswa. Kembalinya seseorang secara penuh pada perilaku normal adalah tidak biasa namun terjadi pada beberapa kasus. Yang lebih umum adalah berkambangnya pola kronis, yang ditandai dengan terjadinya episode-episode psikotik akut dan berlanjutnya hendaya kognitif, emosional, dan motivasional antarepisode ( Weirsma dkk., 1998; USDHHS, 1999a).
2.4    Ciri-ciriUtamaSkizofrenia
Gangguandalampikirandanpembicaraan
·      Gangguan dalam isi pikiran
Gangguan yang paling nyata pada isi pikiran mencakup waham, atau keyakinan yang salah yang menetap pada pikiran seseorang tanpa mempertimbangkan dasar yang tidak logis dan tidak adanya bukti untuk mendukung keyakinan tersebut. Waham ini cenderung tidak tergoyahkan meskipun dihadapkan pada bukti yang bertentangan. Beberapa bentuk umum waham :
a.    Wahamperkusi (berpikirbahwamerekadikejaroleh Mafia, FBI, ataukelompok lain).
b.    Waham referensi (merasa bahwa dirinya dibicarakan orang).
c.    Waham dikendalikan (meyakini bahwa pikiran, perasaan, tindakannya dikendalikan oleh kekuatan dari luar, seperti suruhan setan).
d.   Waham kebesaran (meyakini dirinya orang yang besar memiliki kekuatan menyelamatkan dunia).
e.    Waham pemecahan pikiran (meyakini entah bagaimana pikirannya disebarkan ke dunia luar sehingga orang lain dapat mendengarnya).
f.     Waham penyisipan pikiran (meyakini bahwa pikirannya telah ditanamkan pada otaknya pada pihak luar).
g.    Waham penarikan pikiran (meyakini bahwa pikirannya telah dipindahkan dari dalam otaknya).
h.    Waham lain meliputi keyakinan bahwa dirinya telah melakukan dosa yang tidak termaafkan, menjadi busuk karena penyakit yang mengerikan.
·      Gangguan dalam bentuk pikiran
Gangguan pikiran dikenali melalui gangguan dalam organisasi, pemrosesan dan kendali pikiran. Bentuk pembicaraan orang yang mengalami skizofrenia sering kali tidak teratur atau kacau, dengan bagian-bagian kata dikombinasikan secara tidak sesuai atau kata-kata dirangkai bersama untuk membuat rima-rima yang tidak bermakna. Pembicaraan mereka dapat melompat dari satu topic ke topiklainnya, namun kurang menunjukkan keterkaitan antara ide atau pikiran-pikiran yang diekspresikan. Orang-orang dengan gangguan pikiran biasanya tidak menyadari bahwa pikiran dan perilaku mereka tampak tidak  normal.
·      Kekurangan dalam pemusatan perhatian
Kesulitan menyaring keluar stimulus yang tidak relevan dan mengganggu, kekurangan yang menyebabkan hampir tidak mungkin untuk memusatkan perhatian dan mengorganisasikan pikiran mereka (Asarnow dkk., 1991).Orang yang mengalami skizoprenia juga tampak waspada berlebihan, atau menjadi benar-benar sensitif terhadap suara-suara yang tidak relevan, terutama selama tahap awal gangguan.
·      Gangguan persepsi
Halusinasi, bentuk gangguan persepsi yang paling umum pada skizoprenia, adalah gambaran yang dipersepsi tanpa adanya stimulus dari lingkungan. Halusinasi dapat melibatkan setiap indera. Halusinasi auditoris (mendengar suara) adalah yang paling umum. Halusinasi taktil (seperti digelitik, sensasi listrik atau terbakar) dan halusinasi somatic (seperti merasa ada ular yang menjalar di dalam perut) juga umum. Halusinasi visual (melihat sesuatu yang tidak ada), halusinasi gustatoris (merasakan dengan lidah sesuatu yang tidak ada), dan halusinasi olfaktoris (mencium bau yang tidak ada) lebih jarang.
·      Gangguan emosi
Orang yang mengalami skizoprenia mengalami gangguan afek atau emosional yang ditandai oleh afek datar dan tidak sesuai. Mungkin berbicara secara monoton dan mempertahankan wajah  tanpa ekspresi. Bukti – bukti terakhir berdasarkan penelitian laboratories menunjukkan bawa pasien skizoprenia mengalami emosi negative yang lebih intens, dibandingkan kelompok kontrol (Myin-Germeys, Delespaul, & deVries, 2000).

2.5    BeberapaPenyebab Skizofrenia

1.    Faktor Biologis
§  Bukti kuat tentang kontribusi genetis yang utama.
§  Ketidakteraturan dalam system neurotransmitter di otak, terutama pada jalur di otak yang mengatur neurotransmitter dopamine.
§  Ketidaknormalan otak yang mendasari banyak kasus, seperti kerusakan structural atau deteroisasi jaringan otak atau gangguan pada jalur di otak yang mengatur fungsi kognitif dan emosional.
§  Kemungkinan adanya peraninfeksi virus yang mempengatuhi perkembangan otak yang terjad ipada masa prenatal atau selama masa awal kehidupan.
2.    Faktor Psikososial
§  Pengalaman yang penuh stress dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan skizoprenia pada individu yang memiliki kerentanan secara genetis.
Penyebab yang spesifik tetap tidak diketahui, namun kebanyakan peneliti meyakini bahwa hal-hal tersebut mencerminkan interaksi antara genetis dan factor yang terkait dengan stress, sebagaimana direpresentasikan oleh model diatesis stres.Belum ada penyembuhan untuk skizoprenia. Penanganan biasanya mencakup banyak segi, menggabungkan pendekatan farmakologis, psikologis, dan rehabilitative. Kebanyakan orang skizofrenia yang dirawat dalam lingkup kesehatan mental yang terorganisasi menerima beberapa bentuk obat antipsikotik, yang dimaksudkan untuk mengendalikan pola-pola perilaku yang lebih ganjil, seperti halusinasi dan waham, dan mengurangi resiko kambuh yang berulang-ulang.
2.6    Beberapa Pendekatan Penanganan Skizofrenia

1.    Perawatan Biomedis
Menggunakan obat-obatan tipsikotik untuk mengendalikan simtom-simtom psikotik.
2.    Penanganan Psikososial
Pendekatan berdasarkan prinsip belajar, seperti system token ekonomi dan pelatiha nketrampilan social, dapat membantu pasien skizofrenia mengembangkan perilaku yang lebih adaptif.
3.    Rehabilitasi Psikososial
Kelompok-kelompok self-help dan program tempat tinggal yang terstruktur dapat membantu pasien skizofrenia menyesuaikan diri dengan kehidupan komunitas.
4.    Program Intervensi Keluarga
Intervensi keluarga digunakan untuk meningkatkan komunikasi dalam keluarga dan mengurangi tingkat konflik dan stress keluarga.











BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Nathaniel mengalami gangguan kejiwaan yang disebut skizofrenia. Dilihat dari perilakunya, Nathaniel cenderung mengidap skizofrenia gangguan delusional atau gangguan paraoid. Skizofrenia merupakan gangguan psikotik kronis yang ditandai oleh episode akut yang mencakup kondisi terputus dengan realitas, yang ditampilkan dalam ciri-ciri seperti waham, halusinasi, pikiran tidak logis, pembicaraan yang tidak koheren, dan perilaku yang aneh. Nathaniel mengalami skizofrenia disebabkan oleh factor psikososial yaitu stress. Pengalaman yang penuh stress dapat memberikan  kontribusi terhadap perkembangan skizofreni apada individu yang memiliki kerentanan secara genetis.            Belum ada penyembuhan untuk skizofrenia. Penanganan biasanya mencakup banyak segi, menggabungkan pendekatan perawatan biomedis, penanganan psikososial, rehabilitasi psikososial,  dan program intervensi keluarga. Pendekatan ini dilakukan untuk mengurangi halusinasi dan waham yang mengganggu diri dari Nathaniel dalam melakukan aktivitasnya.











DAFTAR PUSTAKA

Jeffrey S. Nevid, S. A. 2005. Psikologiabnormaljilid 2. 
Jakarta:Erlangga.
Kartono, Kartini. 2000. Hygiene mental.
Bandung: CV. MandarMaju.






1 komentar:

  1. Harrah's Cherokee Casino & Hotel - Mapyro
    Harrah's 경산 출장안마 Cherokee 세종특별자치 출장안마 Casino & Hotel. 2021-10-09. Find reviews, 양주 출장마사지 hours, directions, opening hours and more for 정읍 출장마사지 Harrah's Cherokee Casino & Hotel 사천 출장안마 in

    BalasHapus